Sabtu, 13 Oktober 2012

PELUKIS AMRI YAHYA


                Amri Yahya adalah sosok yang tak hanya pintar melukis batik tapi juga mencermati dan mengkritisi sikap bangsa Indonesia dalam memperlakukan batik. Ia sangat sedih luar biasa saat mengetahui Malaysia berupaya mematenkan batik sebagai karya negeri jiran tersebut. ”Padahal dunia luar sudah lama mengetahui dan mengakui bahwa batik adalah milik bangsa Indonesia. Hampir di seluruh wilayah Indonesia mengenal seni batik. Ini merupakan kesalahan kita sendiri, karena kita kurang menghargai apa yang disebut hak paten,” katanya.
            Ia begitu dikenal sebagai pelukis batik yang tersohor hingga mancanegara. Kesetiaannya terhadap dunia seni itu telah mengantarkan ia meraih gelar doktor dan profesor honoris causa. Amri yang kesehariannya juga menjadi dosen itu pun disebut-sebut sebagaiperintis terkemuka dalam seni lukis batik kontemporer.
Pilihannya menjadi pelukis batik, bukan hanya karena ingin mencari sesuatu yang lain tapi juga karena ia ingin menjaga salah satu akar seni tradisional Indonesia. Karena itulah, dalam wawancara dengan wartawan sebelum ia wafat, Amri sempat menyatakan kesedihannya ketika ada negara lain yang mengklaim
batik sebagai karya budaya mereka. Wajar jika sepanjang perjalanan hidupnya, ia total mendedikasikan diri bagi upaya menjaga dan melestarikan batik Indonesia. Saking cintanya kepada batik, setiap kali ayah empat anak inidiundang untuk pameran dan ceramah ia selalu membawa perabotan membatik dan melukis secara lengkap seperti kompor kecil, canting, lilin dan lainnya. Disela ceramahnya, iamendemonstrasikan keahlian melukis batik.
               Pria yang melukis dengan media acrylic, acquarel, cat minyak dan menekuni media batik sebagai media ungkap ini telah berhasil menelurkan ribuan karya lukisan batiknya baik yang berukuran kecil dan besar yang dipampang dalam bingkai. Tapi tak sedikit motif-motif abstrak batiknya juga digunakan untuk busana dengan memilih lebak-lebung atau panorama alam sebagai subject matter sebagai potret sebagian besar rakyat Indonesia yang hidupdikawasan pedesaan.  Karya-karya lelaki asli Palembang yang puluhan tahun menetap di Yogyakarta ini pernah dipamerkan di Australia, Jerman, Amerika Serikat, Mesir, Inggris,Belanda, Kanada, Denmark, Syria, Jepang dan tentu saja diberbagai kota di Indonesia. Tak sedikit pejabat negara dan lembaga di dalam maupun di luar negeri yang mengoleksi karya lukis yang dipamerkannya sejak tahun 1957.
              Apa yang membuat Amri memilih dunia seni lukis sebagai bagian hidupnya? “Karena pekerjaan ini jauh dari korupsi,” jawabnya dalam sebuah wawancara. Sempat kepincut menjadi penyair dan tentara namun urung di tengah jalan. Dalam hal seni rupa dan kaligrafi lukis ia sempat menuturkan bahwa inspirasi untuk membuat warna-warna dalam seni ini bisa didapat dari struktur keindahan sayap butterfly atau kupu-kupu. Warna yang ada pada hewan tersebut sangat natural dan khas, warna yang dijumpai bisa macam-macam, bisa warna yang terkesan redup atau warna yang terkesan cerah, sehingga sangat menarik untuk dijadikan inspirasi dalam berkarya. Hal ini dapat dibuktikan dan dilihat dalam warna-warna karya lukisnya terutama kaligrafi yang tampak ekspresif dan inheren dengan unsur warna kupu-kupu (hasil dari wawancara dan pengamatan langsung).
                 Ia juga merasa gundah karena kebanyakan dari kita menganggap batik bukan karya seni, tapi barang kerajinan. “Jadi menganggap nilainya rendah, dan kurang pantas dipamerkan sebagai karya seni. Padahal di luar negeri seperti Jerman, Inggris dan Australia serta Amerika Serikat setiap tiga bulan sekali sekali menyelenggarakan pameran,” keluhnya.
            Kegigihannya menjaga dan mengajak bangsa ini untuk mencintai batik belakangan sudah mulai menunjukkan hasil. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) telah menetapkan batik sebagai peninggalan budaya Indonesia. Namun lebih dari itu, batik kini menjadi pilihan busana prioritas umumnya masyarakat negeri ini yang menjadikan batik sebagai pakaian sehari-hari. Sebuah kebanggaan yang dapat dirasakan setelah sang maestro pergi menghadap Sang Khalik pada 20 Desember 2004.


Riwayat Pendidikan
§ Sejak SD di Taman Siswa Palembang tahun 1956
§ Ijazah I di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta tahun 1961
§ Ijazah II di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta tahun 1963
§ Drs. (Keguruan sastra dan Seni) di IKIP Yogyakarta (Juru Seni Rupa, Fakultas
Keguruan Sastra dan Seni/FKSS) tahun 1971
§ Sertifikat Keramik Dinding di Den Haaq, Belanda tahun 1980
§ Akta V dari Departemen Pendidikan dan kebudayaan tahun 1984
§ Doktor H.C. (Pendidikan Seni Rupa) di Universitas Negeri Yogyakarta tahun 2001
§ Profesor/Guru Besar (Pendidikan Seni Rupa) dari Universitas Negeri Yogyakarta tahun 2002

Pengalaman Mengajar
a. Fakultas Bahasa dan Seni UNY (dahulu IKIP Yogyakarta) tahun 1967 s/d akhir hayat sebagai     dosen pendidikan seni rupa (seni lukis, apresiasi budaya, seni rupa tradisional, disain interior, disain tata taman, disain produk, manajemen seni dan tata pameran, studi mandiri, seni batik dan seni lukis kaligrafi).
b. STSRI-ASRI Yogyakarta yahun 1973-1980 sebagai dosen seni rupa.
c. Oklahoma State University (USA) tahun 1974 sebagai Public Lecturers.
d. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (dulu IAIN) tahun 1978-1980 sebagai dosen apresiasi seni.
e. AKK Yogyakarta (Akademi Kesejahteraan Keluarga) tahun 1975-1980 sebagai dosen apresiasi seni, seni batik, tata taman dan interior.
f. Universitas Islam Indonesia Yogyakarta tahun 1981 s/d akhir hayat sebagai dosen apresiasi seni (FT), merancang warna (FTI).
g. IOWA University, IOWA (USA) tahun 1986 sebagai visiting professor.
Tulisan Ilmiah – Penelitian
1. Seni lukis Batik sebagai Sarana Peningkatan Apresiasi Seni Lukis Kontemporer (tesis S1, 1971).
2. Seni lukis sebagai Media Peningkatan Apresiasi Seni Lukis, (sebagai pidato pengukuhan untuk kenaikan pangkat), 108 hlm., 1976.
3. Siluet, Apresiasi Seni, (paper diketengahkan dalam rangka pengarahan guru-guru seni rupa), 1976.
4. Manfaat Persepsi bagi Dosen Seni Rupa dan Pelukis, 12 hlm. (sebagai pidato pengukuhan untuk kenaikan pangkat), 1976.
5. Keramik Dinding adalah salah satu Perkembangan baru dalam Dunia Keramik, (sebagai Progress Report Study di Nederland), 18 hlm., 1980.
6. Soemarsono, Bambang Damarsasi dan Trie Hartiti, Sikap Mahasiswa IKIP Yogyakarta terhadap Apresiasi Seni dan Budaya, 40 hlm., 1980.
7. Peran Kritik, Arti dan Fungsinya dalam Pendidikan Seni Rupa, 16 hlm. (sebagai pidato pengukuhan untuk kenaikan pangkat), 1982.
8. Wiraswasta dan Seni bagi Mahasiswa Ekonomi, (paper diketengahkan untuk studi perbandingan mahasiswa tingkat akhir Universitas Diponegoro Semarang), 1983.
9. Wanita dan Pemuda Ambil Peranan dalam Perkembangan Kebudayaan, Student Centre Banyumas, 5 hlm,. 08 Mei 1983.
10. A. Adi Sukadana dan Kusen, Aspek Ritual dan Kreatifitas dalam Perkembangan Seni di Jawa. (Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara atau Javanologi, Direktur Jendral Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan), Yogyakarta, 64 hlm., 1985.
11. Soenarto, Hajar Pamadhi dan Suwarna, Relevansi Kurikulum Sekolah Pendidikan Guru terhadap Kurikulum Sekolah Dasar di Daerah Bantul, Yogyakarta, 1990.
12. Mohammad Affandi dan Trie Hartiti, Perbedaan Tipe Lukisan Anak-anak Sekolah dasar, 30 hlm., 1991.
13. Kaligrafi Arab untuk Pendidikan Seni Rupa, (Pidato Llmiah di FPBS IKIP Yogyakarta, 37 hlm., 1992.
14. Islam dan Pembinaan Seni Rupa, dimuat dalam Jabrohim dan Saudi Berlian (eds.), Islam dan kesenian, Majelis Kebudayaan Muhammadiyah dan Universitas Ahmad Dahlan, 1995.
15.Unsur-unsur Islam pada Ornamen Sakaguru Bangsal Kencana Keraton Yogyakarta, Penelitian Ilmiah, 65 hlm., 1998.
16. Islamic Calligraphy ini Batik Medium, Contemporary of the Indonesian Islamic Fine Art, 21 hlm., Hofstra University, New York, 2000.
17. Unsur Islami dalam Ornamen Tradisi Puteri Merong Keraton Yogyakarta, dimuat dalam Seni, Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni BP ISI Yogyakarta VII/03, Januari 2000.
18. The Callenge for Batik in the year 2020: Art, Commodity and Technology dimuat dalam Michael Hitchcock dan Wiendu Nuryanti, Building on Batik: The Globalization of a craft community, England: Ashgate Publishing Ltd., 2000.
19. Pengembangan Seni Budaya dalam Perspektif Pendidikan, dimuat dalam Ki Drs. RBS Fudyartanta et.al (eds.), Tamansiswa: Bunga Rampai Pemikiran, Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, 2000.
20. Agama sebagai Sumber Inspirasi dan Kreatifitas dan Implikasinya: Hubungan Islam dan Seni, dimuat dalam Humaniora, Jurnal Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada No.1 Tahun 2000.
21. Unsur-unsur Zoomorfik dalam Seni Rupa Islam, dimuat dalam al-Jami’ah, Journal of Islamic Studies, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, No. 65/IV/2000.
22. Ekpresi Religius dalam Wacana Kebudayaan Islam, Sarasehan Kebudayaan di Kampus III UMM, malang, 2000.
23. Religion, The Arts and Peaceful Reconciliation, Seminar on Interreligious Dialogue (JakArt@2001), Jakarta, 2001.
24. Pengembangan Kaligrafi Untuk Optimalisasi Peranan Bahasa, Sastra dan Budaya Arab, Pertemuan Ilmiah Bahasa Arab II, Fakultas Ilmu Budaya UGM, Yogyakarta, 2001.
25. Aspek-aspek Religius Islam pada Batik Tradisional Yogyakarta, Penelitian Mandiri, 53 hlm., 2001.
26.Evaluasi dalam Perspektif Pendidikan Seni (sebagai pidato ilmiah penganugerahan gelar kehormatan Doctor Honoris Causa di bidang Evaluasi Pendidikan Seni, diucapkan di depan rapat terbuka senat UNY), 32 hlm., 2001.
27. Islamic Calligraphy in Batik Medium Contemporary of the Indonesian Islamic Fine Art, dimuat dalam al-Jami’ah, Journal of Islamic Studies; IAIN Sunan Kalijaga, ISSN: 0126-012 X, Vol. 39, No. 2, 2001.
28. Upaya Mengembalikan Diksi Estetis ke dalam Pendidikan Seni (sebagai pidato Ilmiah Pengukuhan Guru Besar di Bidang Ilmu Pendidikan Seni), diucapkan di depan rapat terbuka senat UNY), 46 hlm., 2002.

Penulisan Buku
1. Pengantar Apresiasi Kaligrafi, 105 hlm., 2003.
2. Seni Rupa Islam, Apresiasi, Estetika dan Spiritualitas, 109 hlm., 2003.

Pameran Tunggal Luar Negeri
1. Tahun 1973 :
§ Michigan (USA) dan Singapore.
§ Melbourne, Sydney (Australia).
2. Tahun 1974 :
Koln (West Germany).
San Fransisco, Washington DC, Los Angeles, Santa Rosa, Santa Barbara, Forestville (Callifornia), Oklahoma State University.
3. Tahun 1976 :
Cairo (Egypt).
London, pada acara World of Islamic Festival.
Kopenhagen, Ribe, Esberg (Denmark).
Den Haaq, Rijswik (Netherland) dan Paris (France) di markas UNESCO Syria dan Saudi Arabia.
4. Tahun 1977-1978 :
Kuwait, Iraq, Syria.
5. Tahun 1979 :
Abu Dhabi, Dubai, Al-‘Ain (UAE).
Amsterdam, Rotterdam, Den Haq (Netherland).
6. Tahun 1981 :
San Fransisco, Pasadena (USA).
7. Tahun 1984 :
Muzium Brunei Darussalam, Bandar Seri Begawan (Brunei).
8. Tahun 1986 :
IOWA City, IOWA (USA).
9. Tahun 1987 :
Washington dc dan New York, yang diprakarsai KBRI-KJRI sebagai warming up ‘Diplomasi Kebudayaan’ 1990 (USA).
10. Tahun 1989 :
Silphakorn University, Bangkok (Thailand).
11. Tahun 1996 :
The Asian Art Museum of San Fransisco (USA).
Pameran Tunggal Dalam Negeri
1. Tahun 1960 :
Palembang, Plaju, Sungai Gerong (Sumatera Selatan).
2. Tahun 1962 :
Jakarta, Palembang, Sungai Gerong (Sumatera Selatan).
3. Tahun 1972 :
Palembang (Sumatera Selatan).
4. Tahun 1974 :
Japan – Indonesian Foundation, Jakarta.
5. Tahun 1975 :
Jakarta Hilton Hotel.
Symposium of Indonesian–Middle East Relationship, Jakarta.
6. Tahun 1976 :
TIM (Taman Ismail Marzuki), Jakarta.
7. Tahun 1977 :
TIM (Taman Ismail Marzuki), Jakarta.
UNHAS, Ujung Pandang.
8. Tahun 1978 :
Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Miramar Hotel, Surabaya.
Lembaga Indonesian Amerika, Surabaya.
Simpassri Art Gallery, Medan.
9. Tahun 1979 :
Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
10. Tahun 1980 :
Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
11. Tahun 1981 :
Bank Duta Ekonomi, Jakarta.
Lembaga Indonesia Jepang, Jakarta.
12. Tahun 1982 :
Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
13. Tahun 1988 :
Bank Duta Jakarta.
14. Tahun 1991 :
PT. Pupuk Kaltim, Bontang, Kaltim.
Balikpapan, Kaltim.
15. Tahun 1996 :
World Trade Center, Jakarta.
16. Tahun 1997 :
Mega Pasaraya, Blok M, Jakarta dibuka Ibu Mar’ie Muhammad.
17. Tahun 1999 :
Deparsenibud, Jakarta, dalam rangka silaturahmi masyarakat Sumatera Selatan, dibuka Ibu Negara Ny. Hasri Ainun Habibie.
Hotel Sanjaya, Palembang, dalam rangka Festival sriwijaya dibuka Marzuki Usman (Menparsenibud) dan H. Rosihan Arsyad (Gubernur Sumatera Selatan).
18. Tahun 2000 :
Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dibuka Susilo B. Yudhoyono Mentamben RI.
Komplek Bidakara, Jakarta, dibuka Bang Ali Sadikin.
19. Tahun 2001 :
Hotel Hyatt Regency, Yogyakarta.
dGallerie, Jakarta, dibuka Menristek RI Ir. HM. Hatta Radjasa.
20. Tahun 2001 :
Museum Nasional, Jakarta, dibuka H. Taufiq Kiemas.
Pameran Bersama Luar Negeri
1. Tahun 1957 :
Australia.
2. Tahun 1962 :
Pameran keliling Eropa dan Asia.
3. Tahun 1964 :
New York Fair dan Floating Fair (USA).
4. Tahun 1974 :
The First Combined Art exhibition (Singapore).
5. Tahun 1980 :
The Festival Contemporary Asian Art Show 1980 di Fukuoka (Japan).
6. Tahun 1981 :
The Exhibition of CONEX 81 Contest, Bangkok (Thailand).
7. Tahun 1985 :
Pameran seni Islam di Riyadh dan Jeddah (Saudi Arabia).
The 2nd Asian Art Show, Fukuoka (Japan).
8. Tahun 1986 :
The 1986 Seoul Contemporary Asian Art Show (South Korea).
9. Tahun 1987 :
Pameran Perdamaian di Gedung Induk PBB New York (USA).
Pameran untuk menanggulangi bencana kelaparan dunia (khususnya Afrika) bersama senirupawan dunia yang tergabung dalam IAA-UNESCO, dengan sponsor IAA-UNESCO.
The Art from Another World, keliling Eropa.
Yearly Educational Exhibition, Museon, Den Haaq (1987, 1991).
10. Tahun 1989 :
Annually Exhibition, Gallery Smend (West Germany).
Annually Tour Exhibition by Alexander Koln, Munchen (West Germany).
Im Hoo Seong Gallery (South Korea).
11. Tahun 1990-1991 :
Annually Tour Exhibition, disponsori oleh Willy Goeminne, Merelbeke, Belgium (1991, 1992).
Kebudayaan Indonesia Amerika Serikat (KIAS).
Islamic Work of Art, Holiday Inn (Singapore).
12. Tahun 1992 :
Pelukis Muslim ASEAN, Kuala Lumpur (Malaysia).
13. Tahun 1994 :
Festival Tamaddun Islam, Kuala Lumpur (Malaysia).
14. Tahun 1996 :
Union Square, San Fransisco (USA).
16th National Craft Acquisition Award 1996, NSW (Australia).
15. Tahun 1997 :
17th National Craft Acquisition Award 1997, NSW (Australia).
16. Tahun 2000 :
Pameran Pelukis Terkemuka Indonesia, KBRI (Jerman).
Exhibition of Meeting Five Continents, Rotterdam (Belanda).
17. Tahun 2002-2003 :
‘Ausstellung’ Batik of Change, Handwerksform, Hannover (Jerman).
(Rata-rata setiap tahun pameran bersama ke luar negeri 1-3 kali).
Pameran Bersama Dalam Negeri
1. Tahun 1966 :
Bandung.
2. Tahun 1967 :
Solo.
3. Tahun 1971 :
Jakarta dan Pandaan (Jawa Timur).
4. Tahun 1973 :
Pameran 14 Pelukis batik, Jakarta.
5. Tahun 1974 :
The Great Exhibition of Indonesian Paintings, Jakarta.
6. Tahun 1975 :
Pameran Lukisan dalam rangka Pengumpulan Dana Restorasi Borobudur, Jakarta.
7. Tahun 1976 :
Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.
Maulid Pop Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
8. Tahun 1978 :
Pameran Muktamar Muhammadiyah ke-40 di Surabaya.
Pameran Seni Lukis batik “Canting Emas”.
9. Tahun 1981 :
Pameran Kaligrafi Nasional, Aceh.
10. Tahun 1983 :
Pameran Peresmian dan PenutupanRestorasi Candi Borobudur.
Pameran Kaligrafi Nasional ke-13, Padang.
11. Tahun 1985 :
Pameran Kaligrafi Muktamar ke-41 Muhammadiyah di Solo.
12. Tahun 1986 :
Pameran Besar Senirupawan Indonesia di Taman Ismail Marzuki oleh Dit. Kesenian, Ditjen Kebudayaan.
13. Tahun 1987 :
FK-ISI Yogyakarta (bersama Bagong Kussudiardjo, Fadjar Sidik, Nasjah Djamin).
Pameran kaligrafi di Yogyakarta.
Pameran Trienale di Denpasar, Bali.
Pameran Kaligrafi di Gunung Kidul, DIY.
14. Tahun 1988 :
Pameran bersama seniman Jepang di Caleri Ancol.
15. Tahun 1989 :
Pameran Festival Kesenian Yogyakarta I (FKY), Yogyakarta.
16. Tahun 1990 :
Pameran Seni Rupa MTQ Nasional XV, Yogyakarta.
Pameran Kaligrafi Muktamar ke-42 Muhammadiyah Yogyakarta.
Pameran Festival Kesenian Yogyakarta II (FKY), Yogyakarta.
Pameran Seni Rupa Kontemporer Festival Istiqlal, Jakarta.
17. Tahun 1991 :
Pameran Kaligrafi Islam Nasional, Surabaya.
Pameran Festival Kesenian Yogyakarta III (FKY), Yogyakarta.
18. Tahun 1992 :
Pameran Akbar PWI-Yayasan Marsella, Jakarta.
Festival Canting Emas, Yogyakarta.
Biennale Seni Rupa Yogyakarta, setiap 2 tahun sejak 1988.
Pameran Festival Kesenian Yogyakarta IV (FKY), Yogyakarta.
Gelar Seni Lukis Batik Internasional, Edwin’s Gallery Jakarta.
19. Tahun 1993 :
Pameran Lukisan Indonesia – China, Jakarta.
Pekan Kesenian Islam, Kudus.
The Islamic Calligraphic Painting, Hilton, Jakarta.
5 Pelukis Kaligrafi Yogyakarta, TIM, Jakarta.
45 Pelukis Yogyakarta PWI-IKAISYO, Jakarta.
Pameran Festival Kesenian Yogyakarta V (FKY), Yogyakarta.
Pameran Seni Rupa MTQ XVI Nasional, Pekanbaru.
20. Tahun 1994 :
Exhibition of Islamic Calligraphy, Jakarta.
Pameran Lingkungan Hidup, Garuda Hotel Yogyakarta.
Ekspresi 17 Pelukis Indonesia, Semarang.
Wajah Seni Lukis Islami, Jakarta.
Simphoni Nusantara, Jakarta.
The Jakarta International Fine Arts Exhibition, Jakarta.
Pameran Festival Kesenian Yogyakarta VI (FKY), Yogyakarta.
20. Tahun 1995 :
Pameran Kaligrafi Muktamar ke-43 Muhammadiyah, Banda Aceh.
Pameran Festival Kesenian Yogyakarta VII (FKY), Yogyakarta.
21. Tahun 1996 :
Pameran Festival Kesenian Yogyakarta VIII (FKY), Yogyakarta.
22. Tahun 1997 :
Pameran Festival Kesenian IX (FKY), Yogyakarta.
Pameran ICCT, Yogyakarta.
23. Tahun 1998 :
Pameran Seni Lukis Batik Canting Emas IV, Yogyakarta.
Pameran Biennale XI, Jakarta.
24. Tahun 2000 :
Pameran Seni Rupa IKAISYO, Taman Budaya, Yogyakarta.
Pameran Seni Lukis Batik Canting Emas V, Yogyakarta.
Pagelaran Lukisan Islami Muktamar ke-44 Muhammadiyah, Jakarta.
Pameran Seni Rupa Fort Rotterdam, Universitas Negeri Makassar.
Pameran Festival Kesenian Yogyakarta XII (FKY), Yogyakarta.
Pameran FKY XII di Galeri Adira, Bandung.
25. Tahun 2001-2003 :
Pameran Asian Spiritual Art Exhibition, Yogyakarta (2001).
Pameran “Dari Bantul Melihat Indonesia” (2003).
(Dan Lain-lain, rata-rata setiap tahun pameran bersama dalam negeri 2-5 kali).

Penghargaan
1. Mendapat Penghargan Teringgi Seni Lukis (ASRI I) dari Akademi Seni Rupa Indonesia tahun 1961.
2. Menjadi anggota kehormatan International Association of Art (IAA) dari UNESCO PBB tahun 1977.
3. Menjadi Koordinator Pameran Kaligrafi dalam Panitia Muktamar Media Massa Islam Sedunia I 1980.
4. Menjadi Pemasaran Loka Karya Pola Pengabdian IAIN kepada Masyarakat dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 1983.
5. Pembawa Obor Persahabatan Dunia dari Departemen Luar Negeri RI tahun 1986.
6. Menjadi salah satu dari 33 Profil Budayawan Indonesia (Penayangan pada TV dan buku di urutan kedua setelah Affandi untuk kategori Pelukis) dari TVRI tahun 1987.
7. Mendapat Anugerah Pagelaran pan-Pacific Art dari Seoul, Korea tahun 1988.
8. Mendapat penghargaan sebagai juri “For Judging the 7th Painting of the Year Competition 1988” dari UOB Singapore tahun 1988.
9. Mendapat penghargaan seni Bidang Seni Rupa dari Walikota Yogyakarta tahun 1988.
10. Mendapat penghargaan seni Bidang Seni Rupa dari Gubernur DIY tahun 1991.
11. Menjadi koordinator pameran kaligrafi dalam Panitia MTQ Nasional XVI tahun 1991.
12. Menjadi peserta pada Pameran Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat dalam Panitia Pameran KIAS 91990-91) tahun 1991.
13. Mendapat penganugerahan gelar “Ki” atas pengabdian yang luar biasa di bidang seni rupa dari BP Majelis Luhur Tamansiswa, Yogyakarta tahun 1991.
14. Menjadi Pemakalah dalam Peningkatan Wawasan Peserta Konferensi Menteri-menteri Pendidikan se-Asia Tenggara dari Depdikbud RI Jakarta tahun 1994.
15.Menjadi Tokoh Figur Jawa Tengah dan DIY dari Yayasan Lintas Wisata Indonesia, Semarang, 1995.
16. Mendapat kepercayaan menjadi Perancang Logo dan Maskot PON XVI – 2004 dari Gubernur Sumatera Selatan tahun 2000.
17. Mendapat gelar Doctor Honoris Causa di bidang Evaluasi Pendidikan Seni (Rupa) dari Senat Universitas Negeri Yogyakarta tahun 2001.
18. Mendapat “Anugerah Sriwijaya” diserahkan langsung oleh Wapres RI dari Yayasan Genta Sriwijaya tahun 2001.
19. Wakil Indonesia untuk Nominator “Unesco Sharjah Prize for Arab Culture” dari Komisi Nasional untuk Unesco (Depdiknas) tahun 2001.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar